Allegro Of The Cave

ALLEGORY OF THE CAVE
=================

Plato itu adalah salah satu filsuf terkenal dari zaman yunani kuno yang sering menggambarkan pemikiran nya melalui tekhnik analogi dan ilustrasi agar banyak orang mudah dalam memahami pemikiran nya.

Allegory of the Cave atau biasa disebut dengan "Perumpamaan gua" adalah sebuah karya pemikiran plato. Sebuah gua dengan lorong dalam tanah atau batuan yang tertutup dengan 2 atau 1 lubang pintu masuk dan keluar.

Lalu bagaimana dengan perumpamaan nya?

Sebenarnya jika mengulas tentang hal ini butuh pembicaraan intens yang sangat panjang dan mendetail karena memang sangat sulit.. ilustrasi ringannya
"Bayangkan ada sekelompok manusia di dalam gua yang di rantai di leher, tangan dan kaki semenjak mereka lahir dan di hadapkan pada sebuah dinding gua dan di belakang mereka ada sebuah api unggun yang meyala untuk menjadi media cahaya mereka di dalam gua tersebut sehingga apabila ada orang atau hewan lewat menghampiri mereka, mereka akan tau bahwa ada suatu objek yang mendekat kepada mereka melalui bayangan tersebut dan suara dari objek tersebut akan memantul dalam gua melalui gema, karena mereka dari lahir selalu melihat bayangan di dalam gua tersebut melalui cahaya api unggun tersebut mereka beranggapan bahwa bayangan tersebut adalah sebuah kenyataan dan bagian hal yang nyata bagi mereka padahal tidak sama sekali"

Dari sini ada point pertama yang bisa kita tangkap bahwa "manusia selalu meyakini dari apa yang merek presepsikan".

Dalam kasus ini, tawanan yang seumur hidup menatap dinding akan terdorong menganggap bayang-bayang dan suara gema sebagai sebentuk realitas.

Tetapi bagaimana kalau kita melepaskan salah satu dari orang yang tertawan tersebut? Orang itu kita seret keluar dan merasakan kesakitan dalam sekujur badan nya karena seumur hidup dia tak menggerakkan badan nya dan matanya akan merasa kesakitan karena menatap cahaya matahari yang berada di luar gua.. Meskipun begitu matanya akan beradaptasi dan melihat sebuah kenyataan yang baru di luar gua dan seketika ilmu nya akan pengetahuan semakin bertambah.

Ketika melihat kembali ke dalam gua, orang ini akan menyadari bahwa kenyataan yang dipercaya selama ini salah. Semua yang ia lihat dan dengar itu bukan kenyataan sebenarnya, melainkan sekadar refleksi dari kenyataan yang lebih tinggi.

Namun apa yang terjadi jika orang yang sudah melihat dunia yang nyata tersebut di kembalikan ke dalam gua dan menceritakan suatu hal yang lebih dari sekedar melihat bayangan dan menganggap bayangan hanyalah sebuah hal yang tak nyata? Yahh tentu saja orang ini akan di anggap gila dan omongan nya di anggap sebuah lulucon dan apabila orang ini memaksakan pemikiran nya dan menyeret salah satu dari orang gua tersebut orang yang telah melihat realitas tersebut di anggap melakukan tindakan yang buruk karena hal tersebut membuat sebagian dalam gua tersebut mengalami kesakitan.

Pada akhirnya orang yang di dalam gua tersebut yang belum merasakan realitas kehidupan nyata di luar gua akan menganggap orang yang melihat realitas di luar gua itu sinting dan hanya hayalan padahal jika menengok dari sisi orang yang telah melihat dunia luar yang penuh kebebasan maka orang-orang gua yang belum merasakan kebebasan dunia tersebut yang naif.

Lalu apa yang di bicara kan oleh plato dalam hal ini ?

Plato sendiri percaya akan kenyataan tertinggi yang biasa di sebut forma dan kenyataan tertinggi ini bersifat transenden terpisah dari dunia dan mustahil dipersepsi langsung. Hanya citranya saja yang terpancar di dunia kita.

Jadi misal nya begini mungkin dalam konteks dunia nyata kita saat akan menggambar lingkaran tanpa alat bantu apapun selalu tidak membentuk lingkaran bulat yang sempurna padahal dalam pikiran dan benak kita, kita mengetahui dan tau persis bentuk lingkaran sempurna itu tersebut seperti apa.

Plato berpendapat bahwa Forma itu seperti lingkaran sempurna yang dicontohkan. Forma itu Kenyataan Tertinggi Maha Sempurna. Meskipun begitu kita hidup di dunia serba terbatas. Oleh karena itu, cerminan Forma di dunia tidak mungkin sempurna, sudah pasti di sana-sini ada cacatnya.

Transendensi : Dunia yang Maha lain.

Hmm kembali ke orang yang telah kembali lagi dari dunia luar ke dalqm gua dan menjelaskan segala hal apa yang dia lihat.. Pada awalnya orang tersebut merasa kesakitan dan kemudian menjungkir balikan semua hal yang selama ini dia yakini, kemudian dia mulai beradaptasi dan hidup beriringan dengan sungai, hutan dan gunung.. Hmmm berpindah pemikiran karena suatu hal yang belum di ketahui banyak orang dan orang tersebut di anggap aneh.. Sungguh fenomena tersebut sudah sering kita jumpai di sekitar kita.

Tahap Kemustahilan Menjelaskan.

Pasti kita tau orang gua yang di beri kebebasan dan melihat dunia luar dan di berikan kesempatan menjelaskan apa yang dia lihat ke teman-teman nya yang terbelenggu dalam gua yang terikat oleh ke naif-an akan kebenaran dunia luar, memang sangat pilu.. Bagaimana orang yang melihat pohon dengan bentuk nya yang cenderung abstrak dan berwarna hijau kepada teman-teman nya yang terbelenggu rantai dan menghadap tembok dan melihat bayangan saja mampu mamahami apa yang di bicarakan teman nya yang sudah di beri kesempatan untuk melihat sebuah kerealitasan. Dari sini kita lihat keterbatasan persepsi menggagalkan orang mengerti kenyataan yang lebih tinggi.

Menanam Kerendahan Hati Intelektual.

Di dalam kehidupan ada banyak hal yang kita tidak tahu. Kita sering bertanya tentang banyak hal. Misalnya, apakah dunia gaib itu ada? Bagaimana dengan Tuhan dan Malaikat? Mungkinkah sebenarnya ada dimensi di luar ruang-waktu? Dan seterusnya, dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang sangat sulit di jawab karena sudah masuk ranah ke suatu hal yang tidak kita ketahui adanya.. Ibarat kita adalah orang yang terbelenggu dalam gua.

Jangan sampai justru kita bertindak seperti tawanan gua yang naif. Merasa bahwa persepsinya sudah mewakili kenyataan, lalu dari situ mengatakan: "Tidak ada apa-apa lagi di luar ini". Sementara kenyataannya jauh panggang dari api.

Karena hanya dengan sebuah kerendahan hati seorang manusia akan menemukan sebuah ilmu pengetahuan yang haqiqi, Ibarat padi semakin berisi semakin menunduk.

Sumber : Plato, The Republic Book VII (trans. Benjamin Jowett)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gitar Relic?

SABATON – Swedish Metal Yang Kece Punya

Go and Visit ASEAN ''Malaysia, Singapore and Thailand''