Empat Bulan Lalu, Aku Jadi Relawan

 
 
Tidak terasa hampir sekitar 4 bulanan lalu sudah, aku telah terlibat dan mengikuti sebuah kepanitiaan dari acara yang diselenggarakan oleh IYOIN dengan judul Peduli Indonesia, yaitu sebuah gerakan  sosial pada sektor pendidikan Indonesia dimana kita akan terjun langsung, berinteraksi dan bahkan mengajar secara langsung kepada siswa-siswi SD yang ada di Indonesia. Kebetulan untuk wilayah (Local Chapter) Yogyakarta ini ada 2 SD yang dipilih, yaitu SD Balerante di Sleman dan SD Waduk di Gunung Kidul.
Selama mengikuti kepanitian ini banyak menorehkan pengalaman-pengalaman yang sulit dilupakan rasanya, apalagi aku dipilih menjadi panitia inti oleh Mbak Fitri selaku Executive Director IYOIN LC Yogyakarta.





Berbagai pertemuan pun dilakukan, mulai dari pertemuan antar kepanitian yang selalu pindah lokasi maupun pertemuan rutin. Misal di Loops station lah, mc D lah, Dunkin Donuts, Café bla... bla... bla... tidak hanya satu dua kali aku nyasar ke lokasi pertemuan. XD Pernah juga waktu itu mengadakan janji di café (lupa namanya) , ketika aku datang kelokasi dan sudah parkir motor, kok sepi pada dimana kawan-kawan yang lain. Dipantenginlah grup chat lagi ternyata pertemuan pindah ke dunkin donuts jakal, akhirnya aku langsung cabut lah kelokasi. Pernah juga waktu itu janjian di KFC Sudirman, ancer-ancernya setelah Gramedia. Eh aku malah masuk ke KFC yang di mall utara Gramedia persis. Mana udah parkir motor juga di basement dan naik turun lift, ckck. Parahnya lagi kebetulan saat itu dikampus sedang ada acara dikampus, waktu itu aku langsung cabut dari kampus ke lokasi, nyasar sana sini masih pake korsa kampus ternyata . Tak apa .... ,its okay...hehe


Selain rapat panitia inti, ada juga rapat besar bersama para relawan panitia lainnya. Awalnya sih kami berlokasi di loop station didekat nol kilometer. Namun karena ditempat tersebut tempatnya menyewa  dan berbayar, akhirnya kami pun pindah ke GSP UGM, haha XD. Menjadi bagian dari divisi perkap sempat bingung juga tugasnya mau ngapain, mana acara masih lama 3 bulanan lebih waktu itu. Akhirnya progres ya gitu-gitu aja dah sempat bingung juga di rapat mau bahas apa. Yang paling kelihatan bingung dan panik sih sedari awal divisi humas dan divisi acara seprtinya. Soalnya si humas harus segera menggaet sponsor maupun media partner nya dan si acara harus segera ngebuat konsep acara dari Peduli Indonesia ini.






Hari berganti hari, minggu minggu pun berlalu. Melihat kendala pada fundraising atau Dana usaha, divisi perkap sendiri mengemban amanat dari ketua acara, Mas Hangga untuk danusan. Sempat kelabakan juga awalnya, Alhamdulillah disini relawan perkap pada cepat tanggap. Mulai dari jualan Bunga di nol km, jualan minuman pas ada event di Malioboro maupun Sunmor, ngusulin bikin kaos, open donasi, dan yang paling kece garage sale-an di Sunmor.


Mengikuti sebuah kegiatan maupun organisasi pasti tidak lepa dari yang namanya program kerja ataupun jobdesk. Apalah proker, proker hanyalah sebuah proker. Mungkin segelintir orang saja yang dapat memahami arti nya. Kepanitian hanyalah kepanitan, dengan ikut dan terjun langsung ke lapangan tidak akan mengubah arti dari definisi kata itu sendiri. Namun, ada begitu banyak hal yang tidak aku  dapatkan dari kepanitian lain ketika aku mengikuti kepanitian PI ini. Mulai dari mengamati karakteristik dari tiap-tiap anggota panitia lainnya, menentukan dan bahkan membagi skala prioritas dari aktivitas yang ada, serta menentukan manajemen waktu yang pas. Namun semua itu adalah panggilan hati, karena tidak sekali dua kali saja aku kehujanan ditengah perjalanan saat menghadiri pertemuan-pertemuan yang ada, dan itu bukanlah sebuah hambatan.

 

Disini aku juga mengasah diri belajar tanggung jawab atas amanat dan kepercayaan yang telah diberikan orang lain, dimana saat itu pukul 5 pagi sudah siap dan standby menuju lokasi pengambilan konsumsi untuk didistribusikan pas acara. Namun itu semua tidaklah ada apa-apanya. Nilai-nilai dapat kita dapatkan dari sudut mana saja yang kita mau asal kita mau memahaminya. Apa itu arti kesuksesan sebuah acara “acaranya keren”, namun kita tidak dapat mengambil nilai yang terkandunng didalamnya. Acara yang bertajuk relawan tidak akan pernah memberikan timbal balik materi kepada kita. Bahkan ada yang bilang “jangan berharap kekayaan jika anda menjadi aktivis/relawan”. Ya, itu memang benar, karena aku sendiri pun harus mengorbankan waktuku, tenagaku, pikiranku, dan bahkan biaya. Bahkan dikampus pun aku pernah diajarkan, esensi dari suatu pendidikan itu sendiri bukanlah sebuah karir, namun pengabdian kepada masyarakat. :')

 

Semua itu tidak ada apa-apanya dari pengalaman dan kesan yang aku dapatkan. Aku disitu juga bukan siapa tanpa kawan-kawan dari pantia dan relawan lainnya. Dari berbagai rangka kegiatan dan pertemuan yang dilakukan, ada rasa yang lain yang aku dapatkan, dimana disitu yang tadinya satu sama lain tidak aku saling kenal, namun sekarang terikat persaudaran. Mungkin satu misi dan satu tujuan telah membuat ikatan diantara kami. 


Klimaksnya, bukan hanya mata, pikiran dan nurani yang ikut sadar ketika eksekusi acara pas hari H. Setelah melewati begitu banyaknya dinamika dan tantangan dalam rangkaian persiapan yang ada, ternyata apa yang selama ini saya lakukan belum lah dapat dikatakan pantas dan cukup ketika melihat peristiwa-peristiwa di lapangan. Namun setidaknya, kalaupun tidak dapat menjamin cita-cita mereka aku dan kawan-kawan lainnya telah berusaha untuk menghidupkan banyak mimpi adik-adik tadi sebagai pemegang dan penentu arah bangsa ini dimasa mendatang. Setidaknya mereka tidak akan merasa hidup sendiri dan kehilangan harapan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gitar Relic?

SABATON – Swedish Metal Yang Kece Punya

Go and Visit ASEAN ''Malaysia, Singapore and Thailand''