Gitar Relic?

 

Gitar relic...? Ya mungkin itu masih begitu jarang kita dengar. Namun beberapa waktu lalu saya sempat tertarik sama semua postingan yang memantik diskusi di sebuah grup forum gitar yang ada di facebook. Sempat ada beberapa pendapat mengenai gitar relic itu sendiri.

Gitar relic sendiri, dari katanya saja sudah dapat ditebak. Yups, gitar yang sudah lecet-lecet bahkan catnya sampai mengelupas. Disini ada dua sudut pandang yang saya tangkap dari diskusi kemarin yaitu antara orang awam atau malah mungkin dapat disebut perfeksionis hehe, dengan orang yang sudah lama berkecimpung dengan pergitaran. Wah wah, anggap saja dapat ilmu baru nih...

Dari berbagai pendapat yang ada, secara garis besar gitar relic itu dianggap sebagai gitar "jelek" karena sudah lecet-lecet dan bahkan catnya mengelupas. Istilahnya tidak elok lagi dipandang. Atau dalam kata lain, seni itu kan yang dinikmati keindahan, jadi dengan kondisi fisik yang dalam tanda kutip "jelek" tersebut, maka gitar tersebut sudah tak elok lagi dipandang dan bikin risih mata. 

Tidak tinggal diam dari situ, ternyata para suhu atau shefu atau apapun itu istilahnya tiba-tiba muncul dengan argumen nya, mungkin terpancing dan bahkan ingin meluruskan. Hehe. Atau dalam kata lain, para master gitar memberikan bantahannya.


Ternyata, gitar relic tidak boleh kita pandang sebelah mata. Seni macam apa yang diperbincangkan? Apa itu, antara lain....

Pertama adalah Pengalaman. Ya, gitar relic yang lecet-lecet pasti adalah gitar dengan usia yang tidak muda lagi sejak di produksi. Mungkin sudah menginjak usia 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, bahkan puluhan tahun! Gitar tersebut telah memberikan banyak cerita, telah melewati banyak momen yang mungkin tidak akan dapat diungkapkan nilainya. Kesan yang telah didapat bersama dengan gitar tersebut tidak akan terulang kembali. Jadi, pengalaman atau nilai sejarah inilah yang sangat berharga bagi tersebut.

Kemudian kedua adalah playbility yang semakin nyaman. Terkait dengan lamanya usia gitar dan telah menorehkan banyak cerita, playbility atau kenyamanan gitar tersebut untuk dimainkan juga menjadi nilai utama yang susah didapat di dapatkan dari gitar-gitar baru. Konon usia gitar ini mempengaruhi kandungan kadar air dari katu gitar iti sendiri, yang mana semakin tua gitar tersebut, maka kayu akan semakin kering. Suara atau Tone juga semakin gurih, sustain pun bertambah panjang.

Dan yang terakhir. Seni itu sendiri. Sekarang aja, clana bekas ataupun baju yang bolong-bolong dijual dengan harga mahal di mall. Jadi mungkin ada nilai "estetika" yang tersembunyi di balik gitar relic tersebut yang belum dapat semua orang ambil atau resapi. Gitar tersebut mempunyai nilai seni lebih. Gitar yang terkesan lecet-lecet itu dirasa lebih mencolok di mata daripada gitar standar yang masih baru. Ya begitulah seni saja menjadi pro dan kontra. 

Dan bahkan, kemarin ada yang memberikan pendapat, ibaratnya bikin krupuk udang, udangnya itu disimpan dan dikucel-kucel sampai di blatungin. Ibaratnya, nanti jika udangnya semakin busuk, krupuknya bakal lebih nikmat dan nendang. Haha, ada ada saja analogi  tersebut, mungkin yang memberikan argumen ini adalah juragan krupuk. 

Tapi memang benar, contohnya saja adalah gitar Telecaster dan Stratocaster dari Fender. Gitar tersebut mungkin barunya sekitar 10 juta, namun apabila sudah relic dan sudah tua, harganya semakin mahal. Bahkan kalau gitar itu signature dari seorang artis, mungkin harga yang tadinya 15 juta baru, setelah relic dan usinya menyentuh 10th atau 20th lebih, bukan hal sulit untuk dijual dan laku diatas 50jt an... wah wah...
Saya jadi inget gitar Stratocaster nya Brad Delson, karena meskipun bukan signature dia, pasti harganya muahal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SABATON – Swedish Metal Yang Kece Punya

Go and Visit ASEAN ''Malaysia, Singapore and Thailand''