Guitar Acquisition Syndrome. Apakah aku mengidapnya?

Kemarin malam sempet surfing di dunia maya lihat review beberapa seri efek gitar *lagi-lagi gitar*, akhirnya mampirlah disebuah tulisan blog seseorang yang ngereview salah satu guitar effect dari zoom. Lupa blog siapa, saat aku baca dengan seksama dibahasan yang dia buat ada istilah yang GAS, Gear Acquisition Syndrome. Sempet ga peduli sama istilah itu, aku kira dia yang menciptakan istilah itu secara ngawur atau spontanitas.

Keesokan harinya masih dibayang-bayangi rasa penasaran tentang istilah tersebut, akhirnya aku coba google tentang istilah tersebut. Kaget juga, ternyata memang ada istilah tersebut. Kurang lebih maknanya seperti ini mengutip dari https://kirimanacak.wordpress.com/2014/10/29/sekilas-tentang-gear-acquisition-syndrome-g-a-s-2/

"
GAS itu sindrom dimana para pengidapnya mengganggap bahwa memiliki dan/atau mengoleksi teknologi terbaru dari sebuah alat/gadget adalah sebuah kebutuhan. Biasanya hal ini terjadi pada musisi, fotografer, gadget fanboy, dan orang pada umumnya. Istilah GAS pertama kali digunakan oleh Walter Becker di 1996 dalam artikelnya  “G.A.S.” in Guitar Player  yang merujuk “Guitar Acquisition Syndrome”. Mengapa bisa dikatakan sebuah sindrom?
It is not actually a syndrome. GAS hanyalah sebuah istilah pop yang menggambarkan sebuah keadaan dimana seseorang menganggap bahwa dengan memiliki gear/gadget terbaru, maka mereka bisa menciptakan karya atau bermain dengan lebih baik, walaupun pada kenyataannya hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Bisa dibilang, tujuan memiliki gear/gadget terbaru adalah hanya untuk memenuhi hasrat dan kepuasan prbadinya. Hal tersebut sah-sah saja, namun menjadi mengkhawatirkan saat Anda melakukannya secara berlebihan.
"

Ternyata emang istilah GAS ini bener-bener ada istilah ilmiahnya, mana awalnya dari gitar lagi. Bener-bener deh 😂 ckck.

Ngomongin tentang gitar pasti ga jauh-jauh dari hobi atau kesenangan. Aku pun hobi dan menaruh ketertarikan dengan gitar baru mulai sejak awal-awal masuk sma. Dulu sewaktu smp aku pernah sekali ngidam gitar acoustic dan pengen punya, namun  dengan alasan ada penilaian main gitar di mata pelajaran seni budaya di sekolah dan lebih eloknya memiliki gitar sendiri, dan meminta ke orang tua tidak dikabulkan. Akhirnya yoweslah.

Kemudian beranjak di SMA, pas kelas 11 sekitar bulan oktober 2012 aku paksakan bongkar tabungan karena ngidam banget gitar Jackson seri Warrior. Waktu itu tabungan masih belum mencukupi, dan akhirnya aku konsultasikan ke orang tua buat nambah-nambah dana agar itu gitar segera tertebus. Awalnya ibuku ga setuju, namun sembari meyakinkan aku tegaskan bahwa aku sangat termotivasi buat punya gitar, percayalah ini merupakan salah satu hal positif daripada aku menggunakan waktu dan uangku untuk melakukan hal-hal lain seperti kenakalan remaja. Akhirnya, sip.. akhir tahun 2012 itu gitar sudah ditangan, dibeli sekalian pas studi tour SMA ke jogja dan solo. Hehe

Entah karena kurang perhitungan atau salah mengatur strategi, waktu itu sudah ada gitar namun belum bisa dimainin karena gitar elektrik butuh amplifier buat bunyiin nya. Mana waktu itu sudah ada effectnya pula, zoom g2.1u. Kalo effect itu aku beli second dari pak Tony, seorang TNI dari Aceh yang aku kenal dari fb.

Akhirnya waktu itu, awal februari 2013 ditemani kawan sekelas, berangkatlah ke klaten buat cod an ampli gitar. Kebetulan mengendarai motor teman waktu itu, sempet kena operasi dan kehujanan juga dijalan, tapi tak apalah jauh-jauh ke klaten karena waktu itu dapet harga miring dari mas-mas yang jual, kalo ga salah ampli Belcat seri V35g. Terbantu juga dg gps hape temen karena kita belum pernah kesana sebelumnya.

Tidak lama kemudian, ada temen facebook yang menawari efek stompbox seri boss ch1 chorus, mt2 metalzone, dan ge7 equalizer. Karena kebujuk, akhirnya kebeli lah efek-efek itu. Puas juga dengan semua efek itu, namun karena didorong keperluan dan kebutuhan lain. Akhirnya perlahan-lahan efek zoom g2.1u , boss ch1, boss mt2, boss ge7 lenyap tak jual lewat  tokobagus dan kaskus waktu itu. Dan puncaknya, amplifier Belcat v35g juga dijual pas kelas 3 SMA.

Yaudahlah sabar, sembari fokus UN waktu itu. Dan akhirnya lulus juga dari SMA. Setelah merasa kelar dari beban sekolah dan gada kegiatan apa-apa karena masih nunggu perpisahan , akhirnya mulailah nyentuh gitar lagi. Waktu itu sempet gaenak dan ngerasa aneh juga main gitar tanpa bunyi, akhirnya aku coba mantengin fjb kaskus. Disitu cari di mesin pencarian kaskus dengan keyword "Efek Zoom". Muncullah banyak ikan disitu, dan aku kepincut dengan zoom g5.. walaupun ngeliat harganya waaw haha sempet mikir-mikir untuk pemain gitar kelas amatir kayak gini pengen gear begitu.

Akhirnya aku kontak cp yang ada di iklan dan nego-nego alot sama yang jual sebelum terciptanya kata deal. Akhirnya deal juga dan beberapa hari itu efek sampai di tangan setelah dikirim dari semarang. Walaupun gada ampli, namun zoom g5 ini sangat memuaskan karena suda ada amp simulatornya, dan bisa nyolok ke headphone... 👍

Beberapa waktu kemudian akhirnya setelah ikut tes PTN belum lolos, akhirnya aku hijrah ke tangerang. Disana efek dan gitar tadi aku tinggal , barulah pada November 2014 dibawa juga gitar dan efeknya ke Tangerang dititipin ke saudara. Namun beberapa bulan kemudian aku jua zoom g5 nya karena terdesak kebutuhan karena hape rusak waktu itu dan buat beli buku persiapan tes PTN.

Dengan lenyapnya zoom g5 tadi, maka aku beli lagi zoom ms50g sebagai gantinya yang katanya efek keci cabe rawit. Dan memang benar, zoom ms50g ini adalah efek digital berukuran dan bermodel stompbox dengan sejuta fitur dan kecanggihan. Banyak pilihan efek, simple, dan sangat memuaskan. Jadi kangen lagi nih soalnya sekitaran april 2015 dah aku jual rugi ini efek,lagi lagi terdesak kebutuhan... hingga pada tulisan ini ditulis , aku hanya memiliki sebuah ampli Ibanez v10g yang menurutku sudah cukup sesuai kebutuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gitar Relic?

SABATON – Swedish Metal Yang Kece Punya

Go and Visit ASEAN ''Malaysia, Singapore and Thailand''