Defensia





Waktu memang cepat berlalu, hampir 3 tahun menjadi bagian dari Defensia banyak memberikanku perspektif baru untuk mengamati fenomena-fenomena yang terjadi disekitar. Sebagai sebuah kelompok studi yang berfokus pada kajian isu pertahanan keamanan dalam rumpun ilmu hubungan internasional, salah satu yang ingin aku tekanin disini adalah kalau ternyata wawasan isu pertahanan keamanan tidak ada hanya membahas Militer. Pertahanan keamanan ternyata bukan sebuah isu yang sempit. Masih ingat betul dulu ketika awal di Defensia aku ngira pembahasannya hanya perang, alutsista, militer... Nyatanya, ternyata ruang lingkup pertahanan keamanan itu sangatlah luas. Aku ngedapetin pemahaman baru kalau perkembangan ilmu studi keamanan oleh para ilmuwan HI di Eropa dan Amerika kontemporer, secara garis besar isu ini dibagi menjadi isu tradisional dan isu non-tradisional.

Isu tradisional tadi merupakan isu-isu yang memang menjadi kajian paling awal pertahanan dan keamanan misalnya militer, perang, alutsista dan sejenisnya dengan karakteristik sangat realis atau negara sentris. Sementara itu, perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan telah menghasilkan urgensi bahwa selain diluar isu tersebut juga memiliki dimensi pertahanan keamanan bagi suatu negara dalam ilmu HI. Contohnya adalah isu-isu humanisme dan demokrasi, perbatasan, lingkungan, bahkan teknologi  informasi atau siber. Dalam beberapa referensi studi keamanan seperti yang ditulis Barry Buzan ataupun Allan Collin, disitu bakal ga bisa dipungkiri kalau isu keamanan tidak hanya sebatas keamanan negara dari perang, namun juga ancaman-ancaman lainnya.

Mungkin pada masa dulu, pembahasan tentang keamanan negara pasti identik dengan keduaulatan negara tersebut dari serangan dan ancaman perang militer negara lain, namun sekarang engga bisa. Beberapa pengkaji ilmu studi keamanan nyatanya mengakui kalo saat ini adalah masanya pergeseran dari generasi perang keempat ke generasi perang kelima. Dari ciri-cirinya generasi perang ini merupakan perang yang  lebih mengutamakan strategi dibandingkan pemanfaatan alutsista canggih ataupun militer yang kuat. Namun lebih kepada perang psikologi.

Untuk menghancurkan suatu negara saat ini cukup rusak identitas dan jati diri bangsa negara tersebut, adu domba, lempar konflik horizontal, kuasai ekonomi, beri ancaman dan teror agar politik tidak stabil. Dan itu merupakan ancaman, jadi ketika kita hanya berfokus pada militer maka kita akan banyak kecolongan. Karena yang kita butuhin saat ini ga cuma militer yang kuat, tapi juga nations awareness yang kuat - wawasan kebangsaan yang kuat, pemahaman jati diri yang kuat dan ketika semua itu dikolaborasikan maka bisa jadi kekuatan semesta. Dalam tulisan ini banyak ngomongin sisi negara karena aku mengambil sudut pandang ilmu HI.

Ancaman lainnya adalah, saat ini adalah eranya teknologi dan informasi juga data. Satu dekade terakhir perkembangan teknologi sangat pesat, sangat kontras bedanya. Teknologi saat ini melekat pada semua orang dan mengubah gaya hidup masyarakat kebanyakan mulai dari egoverment, ecommerce, ebanking dan pemanfaatan lainnya. Dengan adanya teknologi kita bisa sangat dekat dengan tokoh-tokoh penting, mengetahui aktivitas kinerja mereka bahkan bisa berinteraksi, misalnya seorang gubernur yang menggunakan media sosialnya seperti Ridwan Kamil. Infrastruktur kritis memanfaatkan teknologi dalam pelaksaannya melayani hajat jutaan warga negara. Birokrasi dan pelayanan pemerintah lintas kementerian menjadi lebih ringkas dengan adanya pemanfaatan teknologi. Tapi kebayang jika kita kurang waspada dan kurang antisipasi tiba-tiba semua sistem itu dilumpuhkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, satu kota atau bahkan negara bisa lumpuh tanpa adanya peperangan senjata. Dan ini ancaman.

Saya jadi ingat salah satu kutipan dari seorang perwira, tapi agak lupa siapa dan dimana dalam kegiatan apa, kurang lebih ‘Kewaspadaan yang tinggi akan menghasilkan dimensi kekuataan yang semesta’.

Sebenarnya banyak sekali pengalaman untuk diceritakan yang kudapatkan di Defensia yang aku sendiripun bingung harus mulai dari mana ceritanya dan kapan kelarnya. Hal yang membuatku sangat beruntung menjadi bagian dari keluarga di Defensia selain pembelajaran tadi adalah aku menemukan keluarga dan orang-orang yang luar biasa. Akhirnya pada pertengahan November kemarin statusku resmi berganti dari pengurus/anggota menjadi Demisioner. Dan bersyukurnya agenda terakhir sebelum pergantian kepengurusan sempat diadakan diskusi mingguan dengga tema – ‘Pentingnya Peningkatan Cyber Security awareness’.







Agenda Internal 

Hanif & Wahid - Kemhan

Dislitbang TNI AD - Tempat Uji Alutsista

Hanif, Komandan Korem, Zein - Korem DIY

Team Litbang
Team Litbang - Albert, Dwiki, Barry, Kevin, Ratri, Danty, Eka, Devi, Nindy, Nurrokhmah.

November 2018



November 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gitar Relic?

SABATON – Swedish Metal Yang Kece Punya

Go and Visit ASEAN ''Malaysia, Singapore and Thailand''